Jakarta Menganggap Penutupan Akhir Pekan Sebagai Kasus Yang Terus Meningkat

Jakarta Menganggap Penutupan Akhir Pekan Sebagai Kasus Yang Terus Meningkat – Pemerintah Jakarta sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan penguncian penuh di seluruh kota pada akhir pekan dalam upaya lain untuk mengekang penyebaran Covid-19, tetapi para ahli mengatakan rencana itu tidak akan efektif untuk mencegah penularan. Wakil Gubernur Jakarta Ahmad Riza Patria menyebutkan rencana tersebut pada hari Selasa, mengatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mencegah orang menghadiri acara yang ramai. “Gubernur akan mengadakan rapat internal untuk melihat apakah rekomendasi yang diberikan oleh anggota DPR itu layak,” kata Riza, seperti dikutip tempo.co. Ide penutupan akhir pekan pertama kali dilontarkan oleh anggota parlemen Partai Amanat Nasional (PAN) Saleh Daulay, yang duduk di Komisi IX DPR yang membidangi kesehatan.

Ia menilai, pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) belum efektif. PPKM diberlakukan di 77 kabupaten dan kota di Jawa dan Bali dari 11 hingga 25 Januari. Kemudian diperpanjang hingga 8 Februari sebagai tanggapan atas terus meningkatnya kasus Covid-19. Seperti dilansir kompas.com, Daulay menyarankan agar pihak berwenang memberlakukan jam malam dari Jumat malam hingga Minggu malam yang akan melarang orang meninggalkan rumah mereka untuk sebagian besar tujuan. Sejumlah penguncian semacam itu telah diberlakukan di Turki sejak 4 Desember 2020. Yang terakhir dimulai pada 29 Januari. Otoritas Turki telah mengecualikan sebagian bisnis tertentu dari jam malam akhir pekan, seperti toko bahan makanan, yang memungkinkan mereka beroperasi antara pukul 10 pagi dan 5 sore Turki juga memberlakukan jam malam pada hari kerja.

Media lokal baru-baru ini melaporkan bahwa pihak berwenang berencana untuk melonggarkan pembatasan menyusul penurunan kasus baru setiap hari. Riza mengatakan pada hari Jumat bahwa pemerintah kota akan menunggu sampai PPKM berakhir pada hari Senin untuk memutuskan apakah akan memberlakukan pembatasan yang lebih ketat pada akhir pekan. “Gubernur Anies Baswedan sedang mempertimbangkan kemungkinan memberlakukan kebijakan dengan ahli epidemiologi, forum kepemimpinan daerah dan satuan tugas Covid-19 nasional. Kami akan mengumumkan keputusan kami pada hari Senin, ”kata Riza, seperti dikutip kompas.com. Meski telah diberlakukan PPKM, Jakarta tetap menjadi episentrum Covid-19 di Indonesia. Ibukota mengkonfirmasi 3.340 kasus baru pada hari Jumat, sehingga jumlah kasus kumulatif menjadi 287.233.

Kota ini juga mencatat 4.485 kematian akibat Covid-19. Beberapa pihak menentang rencana penutupan akhir pekan karena akan menimbulkan masalah ekonomi. Ketua Dewan Kota Presetio Edi Marsudi mengatakan rencana untuk memberlakukan lockdown penuh pada akhir pekan dapat mengakibatkan penurunan ekonomi, memperburuk situasi karena ibu kota menderita penurunan pendapatan selama pandemi, tempo.co melaporkan. Alphonsus Widjaja dari Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) sependapat. “Lockdown tidak akan efektif jika diterapkan sebagian atau hanya pada waktu tertentu. Pemerintah perlu memastikan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan, ”katanya seperti dikutip kontan.co.id.

Epidemiolog Ilham Akhsanu Ridlo dari Universitas Airlangga di Surabaya, Jawa Timur, mengatakan jam malam akhir pekan tidak akan efektif mencegah penyebaran Covid-19 jika pihak berwenang juga tidak membatasi mobilitas orang selama hari kerja karena virus “tidak punya hari. mati.” “Beberapa negara memberlakukan lockdown secara efektif karena memperkuat langkah-langkah pencegahan pada saat yang sama,” kata Ilham, mendesak pihak berwenang Indonesia untuk meningkatkan kemampuan negara untuk menguji, melacak, dan menangani kasus Covid-19. Dia menambahkan, ketidakkonsistenan pemerintah dalam memberlakukan pembatasan Covid-19 dan kurangnya penegakan hukum menyebabkan PPKM tidak banyak berdampak.

“Sudah hampir setahun setelah kami mendeteksi kasus pertama kami. Tetapi kebijakan untuk menahan wabah telah menyimpang lebih jauh dari epidemiologi. ” Pandu Riono, ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, mengatakan lockdown bukan lagi pilihan karena lingkaran penularan virus semakin mengecil. Menurut otoritas kesehatan, Covid-19 sekarang menyebar melalui lingkaran sosial kecil dan rumah, menjadikan kelompok keluarga sebagai bentuk penularan Covid-19 yang paling umum di negara ini. Dia menambahkan bahwa pihak berwenang seharusnya memberlakukan penguncian lebih awal untuk mengulur waktu guna meningkatkan kemampuan pengujian, pelacakan, dan isolasi.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *