Pakan Kelinci dari Limbah Sayuran

18 views
banner 300x280

Prestasi kembali diraih oleh lima mahasiswa Universitas Islam Malang (UNISMA). Mahasiswa dari fakultas Peternakan dan Ekonomi ini berhasil lolos seleksi, dan mendapatkan dana hibah dari Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI), Kemenristekdikti.

Pakan Kelinci dari Limbah Sayuran

Kelima mahasiswa tersebut adalah Alifatul Ulfa (fakultas peternakan), Nur Hikmaturrohma (fakultas ekonomi), Ahmad Fahmi (fakultas peternakan), Ari Sujatmiko (fakultas peternakan), dan Dimas Bayu Anggara (fakultas peternakan). Gagasan yang melatarbelakangi kelima mahasiswa tersebut berawal dari banyaknya limbah sayuran yang dibuang pedagang Pasar Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

“Awal ikut kompetisi ini saat di peternakan kampus, ada kelinci yang tak terawat. Gayung bersambut, ada ide merawatnya dengan memberikan makanan fermentasi limbah sayuran pasar itu,” terang Ari dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id, di Jakarta, Selasa, 9 Oktober 2018.

Hasilnya, dengan sayuran itu, kelinci bisa gemuk, karena ternyata makanan yang diberikan tersebut lebih mudah dicerna. Karena itu, mereka mendaftarkan hasil penelitian ini ke KBMI, dengan inovasi pada makanannya untuk budidaya kelinci.

“Sayang jika sayuran terbuang di pasar tidak dimanfatkan. Ada sawi, wortel, kol, seledri dan lainnya,” sebut Ari.

Proses pembuatan makanan fermentansi sebenarnya sangat sederhana. Namun selama ini jarang terpikirkan sehingga tidak banyak orang yang melakukannya. Limbah sayuran dicuci bersih dan selama 2-3 hari dianginkan agar airnya berkurang.

Kemudian sayur dipotong-potong, dan ditambahkan tetesan tebu, serta mikroba Aspergillus
Niger. “Mikroba itu mempercepat fermentasi dan tidak menimbulkan bau,” jelas Alifatul, mahasiswa yang juga ketua Tim KBMI Unisma 2018.

Dalam satu pembuatan, sayuran fermentasi bisa tahan satu minggu. “Baunya seperti ragi tape,” tambah Ari.

Ia menambahkan, sayuran fermentasi ini tidak memberi pengaruh buruk pada ternak. Sebab kotorannya juga tidak berbau dan ternak cepat gemuk.

Dari budidaya kelinci itu, daging ternak bisa dijual ke penjual sate di Kota Batu, Malang. Harga daging kelinci bisa mencapai Rp70 ribu per kilogramnya. “Untuk penyembelihan dilakukan sendiri oleh kita,” ucap Fahmi.

Selain itu, daging dapat diolah menjadi abon kelinci, meski untuk produksi program ini masih dalam skala kecil. “Rencananya sih abon kelinci bisa dijual di koperasi kampus, dan lewat online,” ungkapnya.

Harga abon per 100 gram Rp40ribu. Di sisi lain, Nurul Humaidah, dosen pendamping KBMI sekaligus dosen fakultas peternakan Unisma mengaku bangga melihat keseriusan mahasiswanya dalam mengelola bisnis tersebut.

“Bahkan sampai diberlakukan piket harian dari Tim KBMI untuk memberi makanan ke kelincinya,” jelas Nurul.

Kelinci ternak itu harus terus diberi makan secara rutin, pada pukul 10.00 WIB dan 17.00 WIB. “Mereka rajin memberi makan kelinci, padahal jadwal perkuliahan lumayan ketat. Semoga semangat ini dapat ditularkan ke adik kelas mereka,” tutup Nurul.

banner 300x280