Kisah Seorang Atlet Difabel Pembawa Obor Asian Games 2018 di Yogyakarta

40 views
banner 300x280

Nanda Mei Sholihah, 19, seorang atlet difabel terlibat membawa obor Asian Games saat kirab di Yogyakarta, Kamis, 19 Juli 2018. Selama membawa obor, ia merasa sangat bangga dan senang.

Kisah Seorang Atlet Difabel Pembawa Obor Asian Games 2018 di Yogyakarta

“Rasanya senang banget bisa ikut bawa obor Asian Games 2018. Antusiasme masyarakat Yogyakarta excited banget untuk mengikuti obor Asian Games,” kata Nanda di Jalan Mangkubumi, Kota Yogyakarta.

Nanda menjadi satu dari empat atlet yang dipilih tim Pocari Sweat untuk lari membawa obor Asian Games dengan jarak sekitar 100 meter. Nanda membawa obor Asian Games 2018 yang memiliki berat sekitar dua kilogram itu saat di Jalan Brigjend Katamso Yogyakarta.

Sebagai seorang atlet, ia tak memiliki persiapan khusus. Sebab, kegiatan lari sudah menjadi aktivitasnya sebagai atlet lari Paragames Indonesia.

“Biasa saja persiapannya. Untuk mental, memang perlu persiapan. Mesti banyak masyarakat yang antusias,” kata dia.

Perempuan asal Kediri, Jawa Timur ini mengatakan, akan melanjutkan ke Solo untuk melanjutkan pelatnas. Ia berharap, kiprahnya sebagai atlet difabel dan pembawa obor Asian Games bisa menjadi inspirasi masyarakat.

“Khususnya generasi muda ya. Mudah-mudahan bisa menjadi contoh dan inspirasi,” kata dia.

Selain Nanda, ada tiga sosok lain yang ikut lari membawa obor Asian Games. Mereka yakni Agnes Natasya Wijaya, 17; Andre Surya, 33; dan Jenahara Nasution, 33. Agnes merupakan Peraih medali perak Olimpiade Sains Nasional 2016.

Sementara itu, Andre merupakan desainer visual yang karyanya banyak digunakan untuk film-film terkenal, seperti Iron Man, Indiana Jones, hingga Transformer. Sedangkan, Jenahara merupakan pengusaha fashion yang telah malang melintang di dalam negeri maupun luar negeri.

banner 300x280

Tinggalkan pesan "Kisah Seorang Atlet Difabel Pembawa Obor Asian Games 2018 di Yogyakarta"

Penulis: 
    author